PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA IPA DENGAN PENDEKATAN IMPLEMENTASI KONSEP PADA KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Standar

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA IPA DENGAN PENDEKATAN IMPLEMENTASI KONSEP

PADA KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas

Dosen Pengampu : ibu Endang

DISUSUN OLEH :

WIDIA MAYA SARI

4301410067

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Proses belajar mengajar merupakan bagian terpenting dalam lembaga formal. Didalamnya harus ada materi yang akan diajarkan dan siswa yang belajar. Keberhasilan suatu pengajaran ditentukan oleh bagaimana proses itu  berlangsung. Guru dituntut untuk menciptakan suasana  belajar yang efektif, inovatif, dan menyenangkan, sedangkan siswa harus mempunyai semangat dan dorongan yang besar untuk belajar. Dalam proses belajar mengajar kimia, agar siswa dapat menguasai konsep-konsep kimia maka strategi belajar mengajar harus diarahkan pada keaktifan siswa agar hasil belajar siswa pun dapat ditingkatkan.

Belajar mengajar merupakan suatu kegiatan yang berlangsung bersamaan. Belajar merupakan upaya yang dilakukan seseorang agar memperoleh “sesuatu”. Sedangkan mengajar adalah suatu kegiatan yang mengupayakan terjadinya proses belajar. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan tingkah laku,dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena latihan dan pengalaman yang dialami selama proses berlangsung dan perubahan yang terjadi bersifat relatif tetap dalam jangka waktu yang cukup lama (Saptorini, 2004 : 3)

Kimia merupakan cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang khusus mempelajari tentang struktur, susunan, sifat dan perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan materi. Ilmu kimia memberikan kontribusi yang penting terhadap perkembangan ilmu-ilmu terapan, seperti pertanian, kesehatan, dan perikanan serta teknologi. Kecenderungan sikap guru yang memberikan pembelajaran kimia dengan ceramah, mengajak siswa untuk membaca bahan ajar, menghafal mengakibatkan siswa cenderung merasa bosan, jengkel, dan tidak adanya kemauan dalam benak siswa untuk mendalaminya.

Dalam suatu proses belajar mengajar guru berperan sebagai motivator dan fasilitator. Peran guru sebagai motivator artinya dalam rangka meningkatkan motivasi dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta  reinforcement untuk mendinamiskan potensi siswa, aktivitas, kreatifitas sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar. Peran sebagai fasilisator artinya guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau memudahkan dalam proses belajar mengajar (Nia Dwi, 2007 : 13)

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia di SMA N 8 Semarang diketahui bahwa aktivitas siswa untuk belajar kimia masih rendah. Hal tersebut berakibat pada rendahnya tingkat ketuntasan belajar siswa.

Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan bagi setiap sekolahan dalam melaksanakan pendidikan. Keberhasilan proses pembelajaran itu ditentukan banyak faktor seperti siswa, guru, sarana dan prasaran, kurikulum, metode dan pendekatan yang digunakan, dan motivasi siswa itu sendiri dalam mengikuti pembelajaran. Agar proses pembelajaran berhasil, guru ditekankan harus membimbing siswanya secara optimal. Untuk memperoleh kualitas pembelajaran yang optimal diperlukan srategi dan metode pembelajaran yang tepat dan efektif. Karena metode yang kurang tepat akan berdampak pada siswa, diantaranya akan menimbulkan kebosanan, pelajaran yang monoton, dan susah dipahami sehingga siswa menjadi kurang termotivasi untuk belajar kimia yang bersifat abstrak. Ketidak nyamanan siswa dalam mengikuti pelajaran itu akan mengakibatkan siswa cenderung bersifat pasif sehingga hasil belajarnya tidak optimal.

Dalam proses pembelajaran kimia di SMA sering sekali guru hanya menjelaskan tentang materi kimia sesuai dengan indikator yang di tuju, tanpa mempedulikan apakah siswa yang diajarnya sudah paham tentang materi yang disampaikan. Strategi yang biasa digunakan oleh guru untuk meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran ialah dengan diskusi. Padahal kenyataan yang terjadi di lapangan metode diskusi itu kurang efektif karena kebanyakan siswa hanya bercerita sendiri dengan temannya dan hanya berperan sebagai penonton saja, sementara kegiatan diskusi hanya diikuti oleh sebagian siswa saja. Oleh karena itu diperoleh strategi dan metode pembelajaran yang berbeda untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif dan bisa mengajak partisipasi aktif dari seluruh siswa.

Salah satu upaya untuk mengajak partisipasi aktif seluruh siswa yaitu dengan pendekatan implementasi konsep yang akan peneliti terapkan pada pokok bahasan asam-basa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan implementasi konsep ini, diharapkan siswa akan bisa lebih memahami akan materi yang disampaikan oleh guru.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis bermaksut mengadakan peneliti dengan judul penelitian : ’’PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA IPA DENGAN PENDEKATAN IMPLEMENTASI KONSEP  PADA KEHIDUPAN SEHARI-HARI”.

  1. B.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan kolaborasi dan diskusi antara peneliti dan guru mitra (guru pengampu) diperoleh identifikasi masalah sebagai berikut :

  1. Kondisi siswa.

a. Aktivitas belajar siswa masih kurang, sehingga siswa sulit memahami materi kimia yang disampaikan oleh guru.

  1. Siswa kurang minat atau cenderung tidak menyukai mata pelajaran kimia.
  2. Sumber belajar yang dimiliki oleh siswa masih minim.
  3. Hasil wawancara dengan guru mitra,  penerapan konsep kimia yang dimiliki oleh siswa masih rendah, hal ini disebabkan siswa hanya mendapatkan teori namun penerapan dalam kehidupan sehari-harinya sangat minim.

e. Hasil belajar kimia masih kurang, berdasarkan data rata-rata hasil ulangan umum kimia kelas X semester I masih kurang dari 70.

2.  Kondisi guru.

a. Mengalami kesulitan dalam penerapan pembelajaran materi kimia dalam kehidupan sehari-hari.

b. Proses pembelajaran berjalan  kurang kondusif dan lebih sering menggunakan metode ceramah.

c. Kurang melakukan praktikum, hal ini disebabkan keadaan ruang praktikum yang hanya ada 1 dan bahan-bahan kimia yang kurang lengkap.

3.  Kondisi Proses Pembelajaran

a. Komunikasi yang terjadi hanya berlangsung satu arah yakni dari guru serta  interaksi yang ada masih kurang.

b.  Proses pembelajaran belum dikaitkan dengan fenomena yang ada di kehidupan sehari-hari.

  1. C.      Rumusan Masalah

Permasalahan yang ada dalam penelitian ini adalah :

Apakah penggunaan pendekatan implementasi konsep dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI-4 SMA N 8 Semarang untuk pokok bahasan asam-basa?

  1. D.      Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini mempunyai dua tujuan, yaitu:

  1. Tujuan Umum

Dalam penelitian tindakan kelas ini, secara umum bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran  yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang tuntas belajar sesuai KKM (untuk mata pelajaran kimia nilainya 70) dan aktivitas belajar siswa dengan kriteria minimal tinggi siswa kelas XI-4 SMA N 8 Semarang untuk pokok bahasan asam-basa menggunakan pendekatan implementasi konsep asam-basa dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Tujuan Khusus

Pada akhir pembelajaran  kimia pokok bahasan asam-basa, jumlah siswa yang aktif, yaitu:

Sekurang-kurangnya 75% siswa yang aktif dengan kriteria minimal tinggi.

  1. E.       Manfaat Penelitian

Manfaaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagi siswa
    1. Siswa yang mengalami kesulitan dalam pemahaman materi pada pokok bahasan larutan asam-basa akan terkurangi bebannya dengan pendekatan implementasi konsep asam-basa dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
    3. Menambah keberanian siswa untuk mengungkapkan pendapat, ide dan gagasan.
    4. Bagi guru
      1. Sebagai motivasi meningkatkan keterampilan yang bervariasi yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran sehingga dapat menghasilkan siswa yang berkualitas.
      2. Guru dapat semakin bersemangat dalam belajar mengajar
      3. Dapat menciptakan suasan kelas yang menarik.
      4. Bagi sekolah

Memberikan sumbangan pada sekolah dalam memperbaiki proses pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa khususnya, dan perbaikan kualitas sekolah pada umumnya.

  1. F.       Penegasan Istilah

Untuk menghindari salah pengertian,  terdapat beberapa istilah yang perlu ditegaskan dalam judul penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Peningkatan

Peningkatan adalah proses, cara,  perbuatan meningkatkan (usaha, kegiatan dsb.) selain itu peningkatan  sama artinya dengan kenaikan atau penambahan (Anonim, 2002: 1198).

  1. Mata Pelajaran Kimia

Kimia merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan sains yang mempelajari struktur, susunan, sifat,  perubahan materi dan energi yang menyertainya (Parning, dkk, 2003: 4)

  1. Materi Pokok Asam-Basa

Materi Asam-Basa merupakan  materi pokok pelajaran kimia SMA kelas XI semester 1.

  1. Aktivitas Belajar

aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan – kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas – tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

  1. Hasil belajar

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.hasil yang telah dicapai anak didik yang menunjukkan kualitas keberhasilan belajarnya dalam proses pendidikan (Anni, 2004: 4). Hasil belajar kimia dalam skripsi ini ditunjukkan dengan nilai tes Kimia pada pokok materi asm-basa.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.   Tinjauan Tentang Belajar, Pembelajaran, Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar

1.    Tinjauan tentang Belajar

a.  Pengertian Belajar

Belajar berarti suatu proses perubahan tingkah laku pada siswa akibat adanya interaksi antara individu dan lingkungannya melalui proses pengalaman dan latihan (Subana :9).

Menurut John Travers dalam Saptorini (2004 : 5) membedakan belajar, yaitu belajar sebagai proses dan belajar sebagai hasil. Belajar sebagai proses adalah kegiatan seseorang yang dilakukan secara sengaja melalui penyesuaian tingkah laku dirinya guna meningkatkan kualitas kehidupannya. Sedangkan belajar sebagai hasil adalah perubahan tingkah laku seseorang setelah melalui proses belajar. Seseorang yang belajar, setelah melalui proses yang dilakukan secara sengaja melalui penyesuaian tingkah laku akan memperoleh hasil berupa kemampuan yang dikelompokkan dalam ranah kognitif, afektif dan spikomotorik. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan,  kepribadian, dan bahkan persepsi manusia, oleh karena itu dengan menguasai prinsip-prinsip dasar tentang belajar, seseorang mampu memahami bahwa aktifitas belajar itu memegang peranan penting dalam proses psikologi.

Berdasarkan uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa pengertian belajar secara umum adalah proses perubahan diri pada seseorang dari pengalaman dan latihan yang dia peroleh.

b.  Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

Peristiwa belajar yang terjadi pada diri pembelajar dapat diamati dari perbedaan perilaku  (kinerja) sebelum dan setelah berada di dalam belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar adalah  :

1)      Fakor Internal

Faktor internal adalah faktor yang mempengaruhi belajar dari diri siswa yang belajar, meliputi:

a)      Kondisi Fisik

Kondisi fisik adalah kondisi yang terjadi dari dalam diri individu itu sendiri dan nampak dari luar serta identik dengan faktor kesehatan organ tubuh.

b)      Kondisi Psikis

Kondisi psikis ialah kondisi yang dapat dimengerti dan diketahui dari evaluasi, seperti kecerdasan bakat, minat, emosi, dan kemampuan bersosialisasi.

2)      Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi proses belajar dari luar diri siswa yang belajar, meliputi:

a) Variasi dan derajat kesulitan yang dipelajari

b) Tempat belajar

c)  Iklim

d) Suasana lingkungan

e) Kemampuan sosial ekonomi (Anni, 2005: 11-12).

2. Tinjauan tentang Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, dkk, 2000: 24). Menurut Sudjana (2000), pengertian pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Ada empat persoalan yang menjadi komponen utama yang harus dipenuhi dalam pembelajaran.Keempat komponen tersebut tidak  berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.Keempat komponen tersebut yaitu tujuan, metode dan alat serta penilaian.Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen pertama yang harus ditetapkan dalam proses pengajaran, tujuan tersebut berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Komponen yang kedua yaitu metode dan alat. Metode dan alat digunakan dalam pengajaran dipilih atas dasar tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Komponen yang lain adalah penilaian, penilaian dilakukan untuk mengetahui ketercapaian suatu tujuan pembelajaran, yaitu menghasilkan perubahan seperti yang disebut dalam pengertian belajar. Peranan guru dalam kegiatan belajar dan pembelajaran  adalah membentuk siswa mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Untuk tujuan tersebut siswa melakukan kegiatan belajar, dengan cara dan kemampuan masing-masing.Siswa memiliki karakter yang berbeda  satu sama lainnya, sesuai dengan pendapat Darsono (2000) bahwa perbedaan antara siswa lainnya membawa konsekuensi perolehan hasil belajarpun tidak sama. Dengan perkataan lain bahwa dalam pengajaran yang menjadi persoalan utama ialah adanya proses belajar pada siswa yakni proses berubahnya siswa melalui berbagai pengalaman yang  diperolehnya yang biasa disebut sebagai hasil belajar.

B.  ASSESMEN PEMBELAJARAN

pengertian assesmen menurut beberapa ahli:

    1. Dodge dan Bikart, asesmen merupakan proses memperoleh informasi tentang         anak untuk menentukan keputusan tentang pendidikannya.
    2. NAYC menyatakan asesmen merupakan proses pengamatan, pencatatan, dan selanjutnya pendokumentasian pekerjaan yang dikerjakan peserta didik dan cara- cara peserta didik mengerjakannya, untuk dijadikan sebagai dasar membuat berbagai keputusan yang mempengaruhi peserta didik.
    3. Khan, Hardas, dan Ma menyatakan assesmen merupakan proses pendokumentasian, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keyakinan.

Pada dasarnya asesmen adalah suatu kegiatan mencari tahu tentang  potensi siswa melalui kegiatan pengamatan, pencatatan, pendokumentasian pekerjaan siswa dan sebagainya yang dapat digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan terbaik untuk siswa besrangkutan.

Asesmen belajar sendiri memiliki dua tujuan, yaitu tujuan isi dan tujuan proses. Asesmen yang berkaitan dengan tujuan isi digunakan untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik telah mempelajari pengetahuan dan kemampuan spesifik. Asesmen yang berkaitan dengan proses digunakan untuk mendiagnosiskekuatan dan kelemahan peserta didik serta merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik.

Tujuan asesmen pembelajaran pada dasarnya tergantung padda penggunaan jenis- bjenis asesmen. Jenis asesmen dalam pembelajaran yaitu:

1.      asesmen formatif dan sumatif

asesmen sumatif biasanya dilaksanakandiaakhir pembelajaran, dan digunakan untuk membuat keputusan mengenai kenaikan kelas peserta didik. Sedangkan asesmen formatif biasanya dilaksanakan selamapproses pembelajaran berrlangsung. Salah satu bentuk asesmen frmatif adalah asesmen diagnostic. Asesmen diagnostic mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik untuk mengidentifikasi program belajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didikk.

2.      asesmen objektif dan subjektif

asesmen bentuk objektif merupakan bentuk pertanyaan yang memiliki satu jawaban yang benar. Sedangkan bentuk subjektif adalah pertanyaan yang memiliki lebih dari sattu jawaban yang benar.

3.      asesmen acuan patokan dan acuan normative

asesmen acuan patokan biasanya menggunakan tes acuan patokan,  merupakan asesmen  yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didikberdasarkan criteria yang telah dittentukan sebelumnya. Sedangkan asesmen acuan normative merupakkan asesmen yang distandarkan pada kelompok individu yang kerjjanya dinilai dengan kinerja individu lain.

4.      asesmen formal dan Informal

Asesmen formal biasanya diwujudkan dengan dokumen tertulis, seperti tes tertulis dan skor yang diberikan dalam bentuk angka. Asesmen informal dilakukan bukan untuk menentukan ranking peserta didik. Asesmen ini biasanya dilakukan dengan cara lebih terbuka, seperti kegiatan observasi, inventori, partisipasi, dan diskusi.

C. Aktivitas Belajar

Aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan – kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas – tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan (Sriyono, 2008, 2)

Trinandita (1984) menyatakan bahwa ” hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing – masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Banyak aktivitas yang dilakukan siswa di sekolah, antara lain :

1)            Visual activities : seperti memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan dan pekerjaan orang lain.

2)            Oral activities : seperti merumuskan, menyatakan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, dan diskusi.

3)            Listening activities : sebagai contoh, mendengarkan percakapan, uraian, diskusi, musik dan pidato.

4)            Writing activities : seperti menulis cerita, karangan laporan,angket dan menyalin.

5)            Drawing activities : misalnya menggambar, membuat grafik dan membuat peta diagram.

6)            Metor activities : yang termasuk di dalamnya yaitu melakukan percobaan, membuat konstruksi, bermain berkebun dan berernak.

7)            Mental activities : misalnya mengingat, menanggapi, menganalisa, memecahkan soal, melihat hubungan dan mengmbil keputusan.

8)            Emosional activities : seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, semangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

( Sardiman, A.M, 1992 : 99-101 )

D.  Hasil belajar

Hasil belajar mengambarkan kemampuan siswa setelah mempelajari sesuatu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2001:3) yang menyatakan bahwa “hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menempuh proses belajar. Hasil belajar  pada hakekatnya merupakan perubahan tingkah laku yang mencangkup bidang kognitif (intelektual), efektif (sikap), dan psikomotorik (bertindak)”. Perubahan sebagai hasil proses dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, kecakapan, serta perubahan aspek lain yang ada pada individu yang belajar.

Dalam proses pembelajaran kimia, khususnya pada pokok bahasan asam-basa, kemampuan belajar siswa yang nyata dapat diukur menggunakan tes yaitu pada aspek kognitif. Anni (2004:4) menyatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan tingkah laku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Apabila pembelajar mempelari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku adalah berupa penguasaan konsep. Dalam pembelajaran perubahan tingkah laku yang harus dicapai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran.

Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya (Hamalik 2001:55).

Secara umum hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan

eksternal (Anni 2004:11). Faktor internal mencangkup:

a.  kondisi fisik, seperti kesehatan organ tubuh

b.  kondisi psikis, seperti kemampuan intelektual, emosional dan bakat

c.  kondisi sosial, seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan.

Kesempurnaan dan kualitas kondisi internal yang dimiliki oleh pembelajar akan berpengaruh terhadap kesiapan, proses dan hasil belajar. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil belajar antara lain variasi dan derajat kesulitan materi yang dipelajari, tempat belajar, iklim, suasana lingkungan dan budaya belajar masyarakat.

Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi secara langsung ataupun tidak

langsung dalam mencapai prestasi belajar.

E. Tinjauan Tentang Pendekatan Implementasi Konsep

     Pengertian Implementasi Konsep

Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2002), mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”. Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (dalam Nurdin dan Usman, 2004). Adapun Schubert (dalam Nurdin dan Usman, 2002:70) mengemukakan bahwa ”implementasi adalah sistem rekayasa.”

Pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Dalam situs internet http://www.muniryusuf.com/pengertian-implementasi-kurikulum.html.

Untuk pengertian konsep, para ahli memiliki pandangan yang berbeda. Berikut ini adalah definisi pengertian definisi konsep menurut para ahli:

  • Woodruf (dalam Amin, 1987) mendefinisikan konsep sebagai adalah suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, suatu pengertian tentang suatu objek, produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda). Pada tingkat konkrit, konsep merupakan suatu gambaran mental dari beberapa objek atau kejadian yang sesungguhnya. Pada tingkat abstrak dan komplek, konsep merupakan sintesis sejumlah kesimpulan yang telah ditarik dari pengalaman dengan objek atau kejadian tertentu.
  • dari wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Konsep merupakan abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan. Pengertian Konsep sendiri adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap extensinya. Konsep juag dapat diartikan pembawa arti.

Dalam situs internet

http://carapedia.com/pengertian_definisi_konsep_menurut_para_ahli_info402.html

dari pengertian-pengertian yang dipaparkan para ahli diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Pengertian Konsep adalah  suatu ide abstrak yang biasanya dinyatakan dalam suatu istilah yang kemudian di tungkan dalam contoh. Sehingga seseorang dapat mengerti makna suatu konsep tersebut dengan lebih jelas.

Dari pemaparan pengertian implementasi dan pengertian konsep diatas. Maka penulis dapat menarik suatu kesimpulan yaitu makna dari “implementasi konsep” adalah suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan yaitu meliputi aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem yang biasanya dinyatakan dalam suatu istilah yang kemudian di tungkan dalam contoh. Sehingga seseorang dapat mengerti makna suatu konsep tersebut dengan lebih jelas.

Implementasi konsep asam-basa dalam kehidupan sehari-hari disini memiliki arti yaitu siswa diarahkan dan diajak untuk dapat menerapkan materi tentang asam-basa yang mereka peroleh dari penjelasan guru dan buku-buku referensi kedalam kehidupan.

Skema Implementasi Asam-Basa dalam kehidupan sehari-hari adalah:

No. MATERI KEGIATAN
1. Konsep Asam-Basa dan Teori Asam-Basa. Memberi contoh bahan alam yang mengandung Asam dan Basa.
2. Identifikasi Asam-Basa Membedakan larutan asam, larutan basa dan larutan netral dengan indikator asam-basa buatan/ indikator universal.
3. PH Asam-Basa Menghitung PH larutan asam dan larutan basa.
4. Pengujian Indikator Asam-Basa dengan bahan alam. Menguji suatu bahan alam bersifat Asam atau Basa dengan menggunakan indikator alami.

Pembelajaran dengan metode Implementasi konsep dalam kehidupan sehari-hari ini meliputi :

a.  Penyajian kelas

Setiap awal dalam Pembelajaran dengan metode Implementasi konsep dalam kehidupan sehari-hari selalu dimulai dengan penyajian kelas. Penyajian tersebut mencangkup pembukaan dan latihan terbimbing di keseluruhan pelajaran. Penekanan dalam penyajian materi pelajaran adalah:

1)  Pembukaan

a)  Mengatakan pada siswa apa yang akan mereka pelajari dan mengapa hal itu penting.

b)  Menyuruh siswa bekerja dalam kelompok untuk menemukan konsep atau merangsang keinginan mereka pada pelajaran tersebut.

2)   Pengembangan

a)  Mengembangkan materi pelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok.

b)  Pembelajaran dengan metode Implementasi konsep dalam kehidupan sehari-hari menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dari pengalaman dan latihan bukan hafalan.

c)  Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.

d)  Memberikan contoh-contoh materi yang disampaikan yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

3)   Latihan terbimbing

a)  Menyuruh semua siswa mengerjakan soal atau pertanyaan yang diberikan.

b)  Memanggil siswa secara acak untuk mengerjakan soal di depan kelas. Hal ini bertujuan supaya aktivitas belajar-mengajar tidak terkesan monoton dan membosankan.

c)  Mengajak siswa untuk melakukan percobaan sederhana untuk menerapkan materi yang disampaikan yang erat kaitannya dengan  kehidupan sehari-hari.

F. Tinjauan Tentang Asam-Basa   

1)     Pengertian Asam-Basa

  1. a.      Asam

            Asam (yang sering diwakili dengan rumus umum HA) secara umum merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Dalam definisi modern, asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton (ion H+) kepada zat lain (yang disebut basa), atau dapat menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa. Suatu asam bereaksi dengan suatu basa dalam reaksi penetralan untuk membentuk garam. Contoh asam adalah asam asetat (ditemukan dalam cuka) dan asam sulfat (digunakan dalam baterai atau aki mobil). Asam umumnya berasa masam, tapi cairan asam pekat sangat berbahaya dapat merusak kulit dan hati-hati mata, jika terpercik asam pekat bisa berakibat kebutaan. Jika kena asam pekat harus langsung dicuci dengan air mengalir sampai benar-benar bersih.

dalam situs internet http://id.wikipedia.org/wiki/Asam. di akses 14 mei 2012

  1. b.      Basa

                        Definisi umum dari basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion hydronium ketika dilarutkan dalam air.Basa adalah lawan (dual) dari asam, yaitu ditujukan untuk unsur/senyawa kimia yang memiliki pH lebih dari 7. Kostik merupakan istilah yang digunakan untuk basa kuat.

Basa dapat dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan basa sangat tergantung pada kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan konsentrasi larutan basa tersebut.

dalam situs internet http://id.wikipedia.org/wiki/Basa diakses 14 mei 2012

2)      Teori Asam-Basa Arrhenius ,Bronsted Lowry dan Teori Asam-Basa Lewis

  1. a.      Asam
  • Arrhenius

Svante August Arrhenius (19 Februari 1859 – 2 Oktober 1927) seorang ilmuwan Swedia mendefinisikan teori asam-basa sebagai berikut:

Asam adalah suatu spesies yang akan meningkatkan konsentrasi ion H+ di dalam air dan basa adalah suatu spesies yang akan meningkatkan konsentrasi ion OH di dalam air. Atau dengan pernyataan lain Asam adalah suatu spesies yang apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion H+ dan basa adalah suatu spesies yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion OH-.Sebagai contoh gas HCl ketika dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion H+ dan Cl- sehingga menurut konsep ini HCl dalam larutan air adalah asam.

HCl(g) →  H+(aq) + Cl(aq)

Contoh asam yang lain adalah HF, HBr, HNO3, H2SO4, H3PO4, CH3COOH, H2C2O4, dan sebagainya. Sedangkan KOH bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion K+ dan OH oleh sebab itu KOH menurut teori Arrhenius adalah basa.

KOH(s) → K+(aq) + OH(aq)

Contoh yang lain adalah NaOH, Ca(OH)2, NH4OH, Ba(OH)2 dan lainnya.

Teori asam basa menurut Arrhenius adalah teori yang amat sempit mengingat teori ini hanya terbatas pada spesies yang memiliki H+ atau OH dan spesies tersebut ada dalam pelarut air artinya apabila spesies tersebut tidak memiliki H+ atau OH dan reaksinya dijalankan dengan pelarut non-air maka teori ini tidak berlaku. Sebagai contoh gas ammonia (NH3) dapat bereaksi dengan gas HCl membentuk ammonium klorida padat dengan reaksi sebagai berikut:

NH3(g) + HCl(g)  → NH4Cl(s)

Reaksi diatas adalah salah satu contoh reaksi asam basa yang tidak bisa dijelaskan dengan teori Arrhenius disebabkan reaksi diatas tidak melibatkan adanya H+ dan OH-. Apabila reaksi diatas dilakukan dalam medium air maka yang terlibah adalah larutan NH4OH dan larutan HCl dengan reaksi berikut;

NH4OH(aq) + HCl(aq) → NH4Cl(aq) + H2O(l)

Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh satu molekul asam disebut valensi asam, sedangkan ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepas ion H+ disebut ion sisa asam. Nama asam sama dengan ion sisa asam dengan didahului kata asam. Berbagai contoh asam dan reaksi ionisasinya diberikan pada tabel berikut.

Rumus

Asam

Nama Asam

Reaksi Ionisasi

Valensi Asam

Sisa

Asam

HCl

Asam klorida

HCl → H+ + Cl

1

Cl

HCN

Asam sianida

HCN → H+ + CN

1

CN

H2S

Asam sulfida

H2S → 2H+ + S2-

2

S2-

H2SO4

Asam sulfat

H2SO4 → 2H+ + SO42-

2

SO42-

H3PO3

Asam fosfit

H3PO3 → 2H+ + HPO32-

2

HPO32-

HCOOH

Asam format

HCl → H+ + HCOO

1

HCOO

CH3COOH

Asam asetat

HCl → H+ + CH3COO

1

CH3COO

  • Brønsted-Lowry

Menurut definisi ini, asam adalah pemberi proton kepada basa. Asam dan basa bersangkutan disebut sebagai pasangan asam-basa konjugat. Brønsted dan Lowry secara terpisah mengemukakan definisi ini, yang mencakup zat-zat yang tak larut dalam air (tidak seperti pada definisi Arrhenius).

  • Lewis

Menurut definisi ini, asam adalah penerima pasangan elektron dari basa. Definisi yang dikemukakan oleh Gilbert N. Lewis ini dapat mencakup asam yang tak mengandung hidrogen atau proton yang dapat dipindahkan, seperti besi(III) klorida. Definisi Lewis dapat pula dijelaskan dengan teori orbital molekul. Secara umum, suatu asam dapat menerima pasangan elektron pada orbital kosongnya yang paling rendah (LUMO) dari orbital terisi yang tertinggi (HOMO) dari suatu basa. Jadi, HOMO dari basa dan LUMO dari asam bergabung membentuk orbital molekul ikatan.

b. Basa

  • Arrhenius

Menurut Arrhenius, basa adalah senyawa yang dalam air dapat menghasilkan ion hidroksida (OH).  Jadi, pembawa sifat basaadalah ion OH. Basa Arrhenius merupakan hidroksida logam, dapat dirumuskan sebagai M(OH)x, dan dalam air mengion sebagai berikut.

M(OH)x (aq) → Mx+ (aq) + xOH (aq)

Jumlah ion OH yang dapat dilepaskan oleh satu molekul basa disebut valensi basa. Beberapa contoh basa Arrhenius diberikan pada table berikut.

Rumus Basa

Nama Basa

Reaksi Ionisasi

Valensi

NaOH

Ca(OH)2

Ba(OH)2

Al(OH)3

Natrium hidroksida

Kalsium hidroksida

Barium hidroksida

Aluminium hidroksida

NaOH →  Na+ + OH

Ca(OH)2 → Ca2+ + 2OH

Ba(OH)2 → Ba2+ + 2OH

Al(OH)3 → Al3+ + 3OH

1

2

2

3

Meskipun tidak mempunyai gugus hidroksida, larutan ammonia (NH3) ternyata bersifat basa. Hal itu terjadi karena NH3 bereaksi dengan air (mengalami hidrolisis) membentuk ion OH sebagai berikut.

NH3 (aq) + H2O (l) ↔NH4+ (aq) + OH (aq)

Untuk menunjukkan sifat basanya, larutan NH3 sering ditulis sebagai NH4OH. Hal itu tidaklah benar karena NH4OH tidak ditemukan, yang ada hanya NH3, ion NH4+, serta ion OH.

  • Brønsted-Lowry

basa Brønsted sebagai spesi kimia yang mampu menarik atau “menerima” kation hidrogen (proton).

  • Lewis

basa Lewis adalah donor pasangan elektron bebas, spesies berupa molekul atau ion yang memiliki tendensi untuk mendonorkan pasangan elektron bebasnya maka digolongkan dalam basa Lewis. Contoh basa Lewis adalah ion halide ( Cl-, F-, Br- dan I-), ammonia, ion hidroksida, molekul air, senyawa yang mengandung N, O, atau S, senyawa golongan eter, ketone, molekul CO2 dan lain-lain. Gambar dibawah menunjukkan basa Lewis dengan pasangan elektron bebasnya.

 

3)     Indikator Asam-Basa

            Indikator adalah zat yang dapat memberi warna berbeda dalam lingkungan asam dan lingkungan basa. Indikator dapat dibedakan menjadi indikator alami dan indikator buatan. Prinsip indikator adalah bahan yang memberikan warna berbeda pada lingkungan asam dan basa. Pada umumnya bahan yang memiliki warna menyolok memiliki sifat memberikan warna yang berbeda pada kedua suasana tersebut.

Contoh indikator alami adalah: ekstrak bunga sepatu, ekstrak kulit manggis, ekstrak kol merah (kubis merah) dan ekstrak kunyit. Contoh indikator buatan adalah kertas lakmus (litmus) berwarna merah dan biru, indikator universal, phenolphthalein (PP), bromtimol biru (BTB), metil merah (MM), metil kuning, metil jingga (MO), fenol merah dan indigo carmine.

Berikut ini adalah tabel warna dalam larutan asam dan basa beberapa indikator:

 

4)     Sifat Asam-Basa

  • Asam

Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:

  • Rasa: masam ketika dilarutkan dalam air.
  • Sentuhan: asam terasa menyengat bila disentuh, dan dapat merusak kulit, terutama bila asamnya asam pekat.
  • Kereaktifan: asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif terhadap logam.
  • Hantaran listrik: asam, walaupun tidak selalu ionik, merupakan cairan elektrolit.
    • Basa

Secara umum, basa memiliki sifat sebagai berikut:

  • Kaustik
  • Rasanya pahit
  • Licin seperti sabun
  • Nilai pH lebih dari 7
  • Mengubah warna lakmus merah menjadi biru
  • Dapat menghantarkan arus listrik

5)     Penentuan PH

            Konsentrasi ion [H+] dalam suatu larutan encer umumnya sangat rendah tetapi sangat menentukan sifat – sifat dari larutan terutama, larutan dalam air. Menurut Sorensen , Ph merupakan fungsi logaritma negatif dari konsentrasi ion H+ dalam suatu larutan dan dirumuskan sebagai berikut :

pH = – log [H+]

Dengan analogi yang sama untuk menentukan harga konsentrasi OH- dalam larutan dapat digunakan rumusan harga Poh:

pOH = – log [OH-]

Dalam keadaan kesetimbangan air terdapat tetapankesetimbangan :

Kw = [H+] [OH-]

Jadi dengan menggunaan konsep – log = p ,maka :

– Log Kw = – log [H+] [OH-]

– Log Kw ={ – log [H+]} + {- log [OH-]}

pKw = pH + Poh

6)      PH Asam-Basa 

pH suatu larutan dapat ditentukan dengan menggunakan indicator ph (indicator universal) atau pH meter. Selain itu, dapat juga diketahui dengan meramalkan pH larutan berdasarkan konsentrasi dan kekuatan asam basa yang bersangkutan. Untuk asam, yang termasuk asam kuat adalah asam yang memiliki pH mendekati nol, sedangkan asam lemah memiliki pH mendekati tujuh. Sedangkan untuk basa, yang merupakan basa kuat adalah basa yang memiliki pH mendekati 14, sedangkan basa lemah adalah basa yang memilki pH mendekati tujuh.

G. Hipotesis

Berdasarkan permasalahan di atas maka hipotesis yang digunakan adalah penggunaan pendekatan implementasi konsep asam-basa dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kimia kelas XI-IA 4 SMA N 8 Semarang .

 

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang menggunakan data pengamatan langsung terhadap jalannya proses pembelajaran di kelas. Data tersebut kemudian dianalisis melalui beberapa tahapan dalam siklus-siklus tindakan.

A.  Setting dan Subjek Penelitian

Penelitian dilakukan di SMA N 8 Semarang yang terletak di Jl. Karang Anyar  No.13, Semarang. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas XI-IA 4 dengan jumlah 30 orang, yaitu 10 putra dan 20 putri, sedang observer adalah guru mata pelajaran Kimia di kelas tersebut.

B.  Fokus Penelitian

Fokus penelitian adalah obyek penelitian atau yang menjadi titik perhatian (Arikunto, 2002:99). Dalam penelitian tindakan kelas ini fokus yang diamati ada 2 macam, yaitu:

  1. Aktifitas Belajar

Aktifitas belajar merupakan aktifitas siswa didalam kelas ketika mengikuti pelajaran apakah siswa tersebut berpartisipasi aktif atau hanya pasif cuma menerima pelajaran saja. Aktifitas belajar siswa ini dapat diukur dengan menggunakan lembar observasi.

  1. Hasil Belajar

Hasil belajar yang diukur meliputi hasil belajar kognitif dan hasil belajar psikomotorik. Pengukuran hasil belajar kognitif dengan tes pada akhir siklus, dan hasil belajar psikomotorik melalui keterampilan siswa melakukan praktikum.

C.  Rencana Tindakan

Prosedur penelitian tindakan kelas pada penelitian ini terdiri dari dua siklus. Hal ini telah memenuhi persyaratan sesuai dengan pendapat Suyitno (2005: 3) yang menyatakan bahwa dalam penelitian tindakan kelas perlu ada siklus kegiatan sekurang-kurangnya dua  siklus, di mana pada setiap siklus kegiatan pembelajaran di mulai dari perencanaan, persiapan tindakan, pemantauan atau observasi, dan refleksi. Perencanaan pada kegiatan pembelajaran siklus I didasarkan pada identifikasi masalah yang ditemukan, apakah masalah tersebut terjadi karena kondisi pembelajaran siswa atau guru.Perencanaan tindakan untuk siklus II didasarkan pada hasil refleksi hasil belajar siswa pada kegiatan pembelajaran siklus I.

1.  Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini dilakukan persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran seperti: pembuatan rencana pembelajaran, pembuatan lembar diskusi, lembar pengamatan siswa dan guru, lembar penilaian aspek afektif dan psikomotorik serta soal-soal tes akhir siklus.

2.  Pelaksanaan tindakan

Pelaksanaan tindakan merupakan kegiatan dilaksanakannya skenario pembelajaran yang telah direncanakan. Tahap ini terwujud dalam bentuk proses belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa.

3.  Pengamatan

Pada tahap ini dilakukan proses pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar  observasi yang telah dibuat. Pengamatan dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru mitra.

4.  Refleksi

Refleksi dilakukan untuk mendiskusikan hasil tes akhir siklus dan hasil pengamatan/ observasi terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa.

Hasil refleksi siklus I digunakan untuk bahan acuan pada siklus ke II.

Persiapan Penelitian

Hal-hal yang dilakukan peneliti sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas ini yaitu:

1.  Observasi awal kelas yang akan diteliti melalui wawancara dengan guru mata pelajaran dan melalui angket kondisi awal siswa kelas XI-IA 4 SMAN 8 Semarang mengenai kondisi siswa, guru  dan proses pembelajaran serta melalui dokumentasi hasil belajar siswa pada materi sebelum siklus guna memberi gambaran mengenai masalah yang terjadi.

2.  Menyusun soal-soal evaluasi beserta kisi-kisinya yang kemudian dikonsultasikan pada ahlinya (dosen dan guru Kimia), menyusun rencana pembelajaran, lembar diskusi, lembar penilaian afektif dan psikomotorik siswa, lembar angket tentang tanggapan siswa terhadap pendekatan implementasi konsep, serta lembar observasi untuk guru dan aktivitas belajar siswa.

Pelaksanaan Penelitian

Siklus I

1.  Perencanaan

Rincian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut :

a.  Merancang skenario pembelajaran menggunakan pendekatan implementasi konsep yang berupa rencana pembelajaran dan lembar praktikum siswa.

b. Mempersiapkan instrumen-instrumen penelitian yang diperlukan yang meliputi soal evaluasi siklus I,  lembar observasi aspek psikomotorik, lembar observasi  untuk guru dan lembar observasi aktivitas siswa serta lembar angket tanggapan siswa.

c. Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk percobaan identifikasi                     asam-basa dengan indikator bahan alami.

d.  Mempersiapkan materi bahan ajar dan soal pre-test.

2.  Pelaksanaan

Rincian kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut :

a.  Guru memberikan pre-test untuk mengetahui kesiapan siswa terhadap pokok bahasan yang akan dipelajari.

b.  Membentuk kelompok yang  heterogen yang terdiri atas 8 kelompok secara acak.

c.  Siswa duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

d.  Guru membagikan lembar Kegiatan Siswa yang berisikan petunjuk praktikum asam-basa menggunakan indikator bahan alami.

e.  Siswa melakukan percobaan tentang  asam-basa menggunakan indikator bahan alami.

f.  Siswa mendiskusikan hasil percobaan dengan teman sekelompok dan perwakilan kelompok maju untuk mempresentasikan hasil diskusi.

g.  Siswa menyimpulkan hasil praktikum dengan bantuan guru.

h.  Pada pertemuan berikutnya setiap awal pertemuan, siswa sudah duduk menurut kelompoknya masing-masing selanjutnya guru memberikan materi secara singkat, untuk siklus I yaitu tentang asam-basa menggunakan indikator baham alami.

i.  Guru membagikan tugas kelompok yang terangkum dalam lembar Kegiatan siswa untuk didiskusikan dan memberikan bimbingan di setiap tahap kegiatan diskusi.

j.  Perwakilan kelompok mempresentasikaan hasil diskusi dan ketua

kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan setiap anggota kelompoknya.

k.  Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi dan materi yang telah dipelajari.

l.  Guru memberikan tes akhir siklus dan angket tanggapan siswa serta tugas mandiri.

3.  Pengamatan

Pengamatan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Guru dan observer  mengamati kemampuan siswa yang meliputi kemampuan afektif, psikomotorik dan aktivitas belajar siswa, sedangkan aktivitas guru hanya diamati oleh observer.

4.  Refleksi

Dari tindakan yang telah dilakukan kemudian dianalisa hasil pengamatannya. Hasil pengamatan tersebut dijadikan kesimpulan apakan dengan pendekatan implementasi konsep dalam kehidupan sehari-hari dapat atau tidak dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia siswa SMAN 8 Semarang.

D.  Tehnik Pengumpulan Data

1.  Sumber Data

Adalah subjek penelitian itu sendiri yaitu siswa kelas XI-IA 4 SMA N 8 Semarang dan seluruh anggota penelitian (guru dan peneliti).

2.  Instrumen Penelitian

a.  Lembar tes akhir siklus

b.  Lembar observasi aktivitas siswa

c.  Lembar observasi pelaksanaan tindakan guru

d.  Lembar angket refleksi siswa.

3.  Metode Pengumpulan Data

  1. Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu  teknik untuk mengumpulkan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis. Untuk  mengukur tolak ukur keberhasilan penelitian, permasalahan dan faktor yang dijadikan pertimbangan untuk tindakan berikutnya (Arikunto, 2002:30). Observasi ini meliputi aktivitas belajar siswa dan kegiatan diskusi selama pembelajaran, yang dilakukan oleh observer.

b. Metode Tes

Metode ini merupakan  teknik penilaian yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam pencapaian suatu kompetensi tertentu (Sanjaya, 2006:187). Tujuan metode ini untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman dan penguasaan konsep siswa mengenai materi setelah diberi penerapan pendekatan pembelajaran implementasi konsep dalam kehidupan sehari-hari. Data-data yang diperoleh dari hasil tes dianalisis untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa.

c. Metode Angket

Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden) (Arikunto, 2002:28). Angket yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu angket motivasi dan angket refleksi siswa. Penyebaran angket motivasi sebelum mulai pembelajaran sedangkan angket refleksi disebar pada akhir pembelajaran.

d. Metode Dokumentasi

Metode ini dilakukan dengan  mengambil dokumentasi/data-data yang mendukung penelitian meliputi nama-nama siswa sebagai subyek penelitian dan data nilai ulangan umum mata pelajaran kimia yang diambil dari daftar nilai. Daftar ini akan digunakan untuk analisis tahap awal.

E.  Analisis Data

Data yang terkumpul dianalisis secara diskriptis kualitatif yaitu membandingkan hasil belajar sebelum tindakan dengan hasil belajar setelah tindakan, dan kuantitatif untuk data pembelajaran. Analisis diskriptis kualitatif memberikan gambaran sejelas-jelasnya tentang proses dan pelaksanaan pembelajaran, serta berhubungan dengan aktivitas dan prestasi hasil belajar siswa dari ketiga aspek kemampuan siswa.

  1. 1.      Analisis Instrumen Penelitian
    1. Validitas Butir

Untuk menghitung validitas tiap butir soal digunakan statistik korelasi point biserial dengan rumus :

rp bis =

Keterangan :

rp bis = koefisien korelasi point biserial

Mp = mean skor total yang menjawab benar pada butir soal

Mt = mean skor total

St = standar deviasi skor total

P = proporsi siwa yang menjawab benar pada setiap butir soal

Q = 1-p

(Arikunto, 2003: 79)

St =

Keterangan :

St = standar deviasi skor total

x = simpangan x – x

N = banyaknya subjek

(Arikunto, 2003: 97)

Hasil pergitungan rp bia kemudian dikonsultasikan dengan rtabel. Jika

rp bis> rtabelberarti butir soal valid.

  1. Tingkat Kesukaran Soal

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit.Untuk mengetahui tingkat kesukaran suatu soal rumus yang digunakan adalah:

Ik =

Keterangan :

IK = indeks kesukaran

B = Jumlah siswa yang menjawab benar

Js = Jumlah seluruh peserta tes

Indeks kesukaran soal diklasifikasikan sebagai berikut :

IK = 0,00                : terlalu sukar

0,00< IK ≤ 0,30      : sukar

0,30 < IK ≤ 0,70     : sedang

0,70 < IK ≤ 1,00     : mudah

IK = 1,00                : terlalu mudah

(Arikunto, 2003: 208)

  1. Daya Beda Soal

Daya pembeda soal merupakan suatu ukuran apakah butir soal mampu membedakan murid pandai (kelompok  upper) dengan murid tidak pandai (kelompok lower). Kelompok upper dan lower ditentukan dengan mengambil sample 27 % siswa pada kelompok  upper dan 27 % siswa dari kelompok lower. Rumus yang digunakan untuk menghitung daya beda soal adalah sebagai berikut:

DB =

Keterangan :

DB = daya pembeda soal

Ba = banyak siswa kelompok atas yang menjawab benar

Bb = Banyak sisiwa kelompok bawah yang menjawab benar

Ja = Jumlah peserta kelompok atas / bawah

Kriteria yang digunakan :

DB < 0                    : daya beda soal sangat jelek

DB = 0,00 – 0,20    : daya beda soal jelek

Db = 0,20 – 0,40    : daya beda soal cukup

DB = 0,40 – 0,70    : daya beda soal baik

DB = 0,70 – 1,00    : daya beda soal baik sekali

(Arikunto, 2003: 213)

  1. Reliabilitas Soal

Dalam penelitian ini, teknik uji realibilitas denagn menggunakan rumus KR-21 :

r11 =

Keterangan :

r11      = reliabilitas instrumen

n      = banyaknya butir soa

M     = mean skor

St2   = varians total

Harga r yang diperoleh yang dikonsultasikan dengan r tabel product moment dengan taraf signifikan 5 % jika r11 > r tabel product moment maka instrument yang diuji cobakan bersifat reliabel (Arikunto, 2003: 103).

  1. 2.      Analisis Data Penelitian
    1. Tes Akhir Siklus

Analisis tes akhir siklus bertujuan untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar siswa pada tiap akhir siklus pembelajaran.

Nilai yang diperoleh siswa dihitung dengan menggunakan rumus:

Nilai = x 100

Siswa yang memperoleh nilai kurang dari 70 dinyatakan mengalami kesulitan belajar dan siswa yang memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 70 dinyatakan telah tuntas belajar.

Untuk mengukur ketuntasan belajar secara klasikal digunakan rumus:

% nilai = x 100 %

Ketuntasan belajar klasikal tercapai apabila persentase siswa yang tuntas belajar atau siswa yang memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 70 jumlahnya lebih besar atau sama dengan 80 % dari jumlah seluruh siswa di dalam kelas.

  1. Analisis Aktivitas Siswa

Analisis data yang digunakan dalam mengukur aktivitas siswa adalah analisis deskriptif melalui  triangulasi data yaitu reduksi data, pemaparan data, dan verifikasi/simpulan data. Jadi data observasi tidak dilaporkan seluruhnya. Persentase minimal aktivitas siswa secara klasikal yang diharapkan sebesar 80 %.

Perhitungan tingkat perkembangan aktivitas siswa dilakukan dengan rumus :

Nilai = x 100 %

Dengan kategori / kriteria penilaian sebagai berikut :

80 % – 100 %       = sangat baik

70 % – 79 %         = baik

60 % – 69 %         = cukup

≤ 59 %                = kurang

(Syah, 2004: 148)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi.2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi aksara.

Deporter, Bobbi. 2010. Quantum Teaching. Bandung : PT Mizan Pustaka.

Akinoglu, Oraham and Ruhan Ozkardes Tandogan, 2006. The Effects of Problem-Based Active Learning in Science Education on students’ Academic Achievement , Attitude and Concept Learning. Istambul, Turki : Universiti Sains Marmara.

Bilgin, Ibrahim. 2008. The Effects of Problem-Based Learning Instruction on University Students’ Performace of Conseptual and Quantitative Problems in Gas Concepts. Turki : University of Mustafa Kemal, Hatay.

Purba, Michael. 2004. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Erlangga.

Sudjana, 2005. Metode Statistika. Bandung : Tarsito.

Sugiyono. 2006. Statitika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.

 

4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s